GSS Leces

Minggu, Maret 09, 2014

Ekspedisi Puncaksari

 by : Didit Prasetyo / Kraksaan Temor


Rute diatas deretan bukit
Bike to adventure kali ini GSS Leces mencoba trek Puncak Sari, trek baru yang merupakan pengembangan dari trek 5cm yang memang sudah terkenal. Berangkat pada hari minggu 9 Maret 2014 pukul 05:00 pagi sambil diiringi gerimis tak menciutkan niat tim menuju titik penjemputan loading pickup di Ana Home Stay cemoro lawang.
Sambil melakukan aklimatisasi di Cemorolawang kita singgah ke dapur Santriman untuk bersarapan. Oh iya Dapur Santriman adalah dapur sang pemilik ana home stay.

Aklimatisasi Cemorolawang

Masakan disini adalah recommended tingkat petualang tapi harus di pesan dulu sebelumnya karenan memang bukan rumah makan umum.Berangkat dari Cemorolawang dengan 3 pickup menuju titik start yaitu


2700 MDPL

Di penanjakan 1. Turun ke lalutan pasir dan kembali nanjak di tanjakan setan menuju penakjakan 1. Setelah setting sepeda, briefing dan berdoa akhirnya tepat pukul 9:00 rombongan start langsung memasuki single trek. Titik start adalah sama dengan titik start untuk trek 5cm.
Trek diawali dengan tanjakan, yang perlu diperhatikan di trek ini adalah usakan jangan memporsir tenaga ketika melewati tanjakan, karena pada dataran tinggi semakin kecil kemampuan tubuh kita untuk menyerap oksigen. Apabila tenaga yang dikeluarkan berlebihan maka akan merasa pusing ata-u nafas tersengal-sengal sebagai indikasi tubuh kekurangan oksigen.
Ladang Dukuh Puncaksari

Trek terus menanjak hingga melewati installasi militer, hutan belantara yang teduh hinggal shelter 1. Jangan lupa untuk berhenti di shelter ini sekedar untuk istirahat dan tentunya foto-foto sambil menikmati pemandangan cemoro lawang yang berada jauh dibawah sana.
Setelah shelter 1 trek masih menanjak hingga Pura Cokroniti. Untuk menuju pura ini aka nada persimpangan jalan dari trek asal. Ambil persimpangan arah kekanan kurang lebih 100 meter akan sampai di pura Cokroniti. Pura ini merupakan pura tertinggi di tanah jawa setelah pura Arcopoda di gunung Semeru.


 Sayangnya pura arcopodo sudah rusak dan hampir tidak bisa kita temukan lokasinya apabila kita melakukan pendakian gunung Semeru. Hanya tinggal nama tempatnya saja.



Lepas dari Pura Cokroniti di elevasi 2700MDpl trek masih berupa single trek turunan melewati punggungan bukit. Trek ini memiliki pesona alam yang luar biasa karena kita meniti punggungan bukit yang ada kalanya kita melewati punggungan sempit. Pada titik punggung sempit trek nyaris seperti jembatan single trek dengan lebar trek tidak lebih dari 2 meter. Dikiri dan kanan jurang sedalam kurang lebih 100meter. Berhati-hatilah bila melewati trek ini. Sangat disarankan untuk saling menunggu ketika melintas di trek ini.
Setelah melewati 3 titik jembatan punggungan sampailah pada trek kebun rakyat. Kebun yang pertama berupa kebun kentang, selanjutnya kebun sayuran berupa bawang merah dan tanaman sayur daun lainnya.


Trek masih berupa single trek tanah perkebunan sayur hingga sampailah pada desa Puncak Sari. 
 
Memasuki desa ada mushollah yang bisa digunakan untuk istirahat sambil sholat dzuhur. Rombongan sampai di titik ini pada pulul 13:30. Pada titik ini merupakan titik persimpangan dengan jalur trek 5cm. Belok kanan adalah trek 5cm yang akan finish di desa Sukapura. Melewati desa Ngeluh.
Untuk trek Puncak Sari adalah lurus dengan melewati desa Sapeh. Trek selanjutnya adalah jalan macadam rusak, bukan single trek lagi tentunya, jalan desa macadam dengan batu lepas dan tajam. Trek berupa turunan berkelak-kelok.


Pada cuaca hujan ataupun gerimis trek ini sangat licin sekali. Agan akan merasakan sensasi ban memilih jalurnya sendiri karena terpeleset oleh bebatuan. Ikon pada trek ini adalah rumah bundar, begitu kita menamainya. Rumah berbentuk bundal pada ujung tikungan denga ornament Eropa dengan warna yang cerah dan mencolok.
Selanjutnya trek berupa jalan aspal mulus atau biasa kita sebut Hot Mix alias aspal Korea. Tipe trek berupa rolling, turunan pada sungai dan tanjakan setelah melewati jembatan. Manfaatkan momentum turunan untuk naik ke tanjakan selanjutnya. Tercatat ada 6 kali rolling pada trek ini.
Trek ini akan berakhir di Puskesmas Lumbang dan masuk jalan utama dari Tongas menuju Sukapura. Belok kiri kea rah turun dan kurang lebih 800meter agan akan sapai di café durian, berupa kebun
Cafe Durian Lumbang
durian yang menyajikan makanan dan tentunya durian matang dipohon. Durian di kebun ini adalah durian montong dengan kualitan master. Disinilah titik finish penjemputan untuk agan dari luar kota. Oh iya di cafe durian ini juga terdapat penginapan rumah kayu kapasitas 10 orang untuk tidur dengan fasilitas air hangat untuk mandi.
Total Trek adalah 25Km dengan 17Km single trek dan 8Km jalan desa berupa makadam batu lepas kombinasi hotmix rolling. Waktu penggowesan 5 Jam saja.


Rabu, Januari 01, 2014

Kebun Teh Kertowono yang tak membosankan...

Menuju kebun teh Kertowono, memang banyak jalurnnya. mulai dari  Rambaan dekat antena relay TVRI, atau melalui Sombo yang sudah dilalui beberapa bulan yang lalu.
Namun ada juga melalui Cepoko yang saat ini jalannya sudah mulai mulus. Itu semua berada di Kecamatan Sumber Probolinggo.
Sebetulnya melalui desa ini sudah pernah dicoba beberapa tahun yang lalu, namun kini mencoba tantangan baru, dengan terlebih dahulu loading sampai hampir ke desa tertinggi yaitu Ledokombo.
Truck yang kami sewa untuk mengantarkan ke perbatasan desa Ledokombo dan Desa Pandansari rupanya telah sukses membuat semua penumpang di dalam bak truck pucat pasi, karena jalur yang meliuk-liuk serta jalanan hancur yang mengaduk-aduk isi perut.
Start pun dimulai ketika waktu hampir menunjuk pukul 8, langsung meluncur ke sebuah jalan desa menuju kampung Sidareja. Jalanan berbatu ini dikelilingi tanah tegal khas dataran tinggi yang ditanami oleh kentang bawang prei dan kobis.
Sambutan hangat masyarakat sekitar membuat kita semakin bersemangat untuk terus melaju hingga desa Kalicilik.
Setelah desa Kalicilik, ternyata jalanan aspal mulus yang masih baru menemani hingga masuk ke desa Cepoko yang merupakan desa terakhir yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo, karena selanjutnya kita akan memasuki kawasan kebun teh Kertowono yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang.
Didalam kawasan perkebunan ini, kami menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah kampung kecil yang semua penduduknya berprofesi sebagai buruh perkebunan yang masuk wilayah Afvdeling Kertosuko.
Di kamping ini kami menyempatkan diri untuk sholat Dhuhur karena waktu sudah menunjuk pukul 12 siang.
Sebetulnya masih ada lagi satu kampung yang diberi nama Kamaran Tengah, namun kami tak melaluinya, karena jalur menuju Kertowono sedikit berbeda.
Setelah menelurusi jalur sempit di sekitar petak-petak kebuh teh,, untuk mempercepat laju, dipilih nya jalur jalan yang biasa dipergunakan oleh kendaraan milik perkebunan, namun jalan berbatu ini menurun tajam dan ditemani oleh hujan yang kadang deras kadang pula turun rintik-rintik, menuntut kita agar ekstra hati-hati, karena jalanan menjadi licin dan pandangan sedikit terhalang.
Di ujung kawasan perkebunan ini terdapat sebuah Air Terjun kecil dan terdapat sebuah Pabrik Pengolahan Daun Teh milik PTPN XII.
Menyempatkan diri untuk loading karbohidrat di warung samping pabrik, kemudian perjalanan pulang meluncur turun melalui jalan aspal yang sudah mulai rusak di desa Dadapan hingga sampai ke Kedungjajang.
Dari Kedungjajang melalui jalan raya menanjak hingga Klakah - Ranuyoso, kemudian meluncur turun hingga sampai di rumah Leces dan waktu sudah mendekati Maghrib.

Minggu, Desember 22, 2013

Blusukan edition

Untuk kali ini, edisi blusukan tak kalah menariknya, karena yang dilalui adalah jalan-jalan yang tak biasa.
Dimulai dari Leces menuju arah Barat di Bantaran.
Disana sudah menunggu 3 personal dari kota Probolinggo diantaranya Dwijoko Chandra dan Andre.
Sedangkan yang berangkat dari Leces selain pak ketua Haji Djoko juga Arif Santoso dan Agus.
Aspal jalanan mulus menyapa diawal seakan membuat mereka ber-enam begitu terlena untuk berpacu satu sama lain.
Namun ketika memasuki desa Legundi, diajak untuk melintasi jalanan sempit di sekitar sungai Legundi yang melintasi perkampungan desa tersebut. Jalan tanah sedikit menanjak membuat kayuhan semakin berat.
Dari desa Legundi kemudian perjalanan dilanjutkan hingga menyeberangi sungai kecil menuju desa Tunggak Cerme dengan tantangan jalur yang semakin sempit dan tanjakan mesra.
Sampai akhirnya puncak tanjakan berada di wilayah desa Wringin Anom / Bades yang berkelok-kelok indah. Kemudian melipir menuju ke arah wilayah desa Resongo.
Dari sini jalan aspal mulus mengantarkan mereka sampai ke Kuripan kembali lewat desa Legundi dan akhirnya berpisan di pertigaan Bantaran.
Perjalanan blusukan sejauh hampir 40 KM ini ternyata menunjukkan bahwa masih banyak jalur nan indah dan menantang di sekitar kita.

Minggu, Desember 15, 2013

Sepuhgembol.... where are you

Ceritanya lagi penasaran setelah mengetahui adanya sebuah waduk baru di wilayah desa Sepuhgembol yang berada di Kecamatan Lumbang.
Sehingga untuk mengobati rasa penasaran itu meluncurlah kami direncanakan melalui Pemandian Sumberbendo.
Namun setelah mendapatkan informasi dari penduduk sekitar, maka rute dialihkan melalui Wonomerto yang landai-landai saja, kemudian menanjak mulus hingga menuju puncak Hutan jati Purut.
Dari sini, melalui jalan setapak untuk kemudian diketemukan jalan aspal yang masih baru, namun ternyata jalan tersebut terpotong oleh sebuah sungai.
Menyusuri sungai ini ternyata sangat menarik karena pemandangan eksotis dan perawan seakan tak ter percaya kalau lokasi ini tak jauh dari kota Probolinggo yang sudah hiruk
pikuk.
Puas meyusuri sungai yang berair hanya di musim hujan ini, akhirnya membuat kita lupa pada tujuan semula mencari waduk Sepuh Gembol.
Hari sudah semakin siang, sehingga memutuskan untuk mencari waduk tersebut lain kali saja.


Minggu, Desember 08, 2013

Dingklik skip Ngawu.. tak jadi ke Welang

Foto Keluarga di Simpang Dingklik
Malam hari tanggal 7 Desember 2013 berbondong-bondonglah kita bersama rombongan menuju Welang.
Sebuah desa 4 km arah timur dari Purwosari Pasuruan.
Disana esok hari akan berkumpul tak kurang 300 penggemar sepeda gunung untuk ikut serta memeriahkan Gobar Peduli Sepeda Gunung yang diadakan oleh Kemenpora.
Maka minggu pagi desa yang biasanya sunyi senyap inipun riuh oleh persiapan para pesepeda yang akan loading dengan truck menuju ke Penanjakan Bromo tepatnya di Simpang Dingklik
Ternyata perjalanan dari Welang membutuhkan waktu tak kurang dari 2 jam, melalui Tutur - Nongkojajar - Tosari - Wonokitri, dengan jalanan meliuk-liuk dan tanjakan tajam yang siap mengaduk-aduk isi perut.
Akhirnya sampaikan kita semua di Simpang Dingklik, yang merupakan jalan aspal pertigaan yang menghubungkan Bromo Lautan Pasir - Wonokitri dan puncak Penanjakan.
Sekitar pukul setelah sepuluh, perjalanan ini dimulai menyusuri turunan aspal tak sampai 200 meter kemudian menyusup ke jalan tanah single track yang ada di sisi kanan jalan raya.
Menunggu Evakkuasi
Rute ini memang cocok untuk jenis AM, sehingga hanya ada sedikit aktifitas pedaling.
Tak heran, bagi peserta yang menggunakan sepeda fullsus rute ini sangat mereka sukai, karena memang sesuai spesifikasinya.
Rata-rata sepeda bisa melaju lebih cepat bahkan dibanding kendaran bermesin sekalipun.
Namun akhirnya rombongan kita harus skip dari rute ini, karena terjadi accident yang menimpa salah seorang anggota kami.
Sehingga hanya bisa melaluinya sampai KM-5 atau tepatnya di desa Ngawu.
Selanjutnya kami harus evakuasi korban menggunakan pickup menuju ke RSU Pasuruan.
Pelajaran berhaga yang bisa kami peroleh dari perjalanan kali ini adalah agar  selalu hati-hati dimanapun berada, dan selalu berdoa di setiap perjalanan, agar kita selalui dilindungi oleh Allah SWT.



Minggu, November 03, 2013

Bentar XC

Courtesy SIS Premier
Sebetulnya ada track mantab yang menarik dan lokasinya tak jauh dari kota Probolinggo.
Bukit Bentar nama lokasinya, sebuah bukit yang terletak di tepi pantai 5 kilometer arah timur kota Probolinggo ini merupakan wilayah milik Angkata Laut. Banyak jalur yang bisa dilalui untuk menuju ke bukit ini, bisa melalui desa Mranggon, Tamansari maupun Dringu.
Atau bisa juga lewat di sekitar Sumberkerang dan lain sebagainya.
Kali ini, kami menuju bukit itu dari arah Dringu, karena sebelumnya mengunjungi rekan-rekan BPBD bersama warga yang melakukan kegiatan pembersihan daerah aliran sungai di wilayah yang rutin didatangi banjir ini.
Dari Dringu dilanjutkan menuju ke arah Timur menuju Sinto kemudian masuk jalan desa di sekitar Tamansari.
Dari Tamansari, mulai disapa dengan tanjakan yang awal mulanya jalan beraspal rusak, kemudian jalan tanah yang cukup lapang dan gersang karena waktu itu masih musim kemarau.
Courtesy SIS Premier
Jalur ini terlebih dahulu mengelilingi sekitar Gunung Pandeg yang merupakan area makam keramat kerabat R.M. Joyolelono atau pendiri kota Probolinggo.

Hawa panas musim kemarau ditambah kering kerontangnya tanah yang kita lalui membuat perjalanan kali ini terasa berat.
Tepat di timur Gunung Pandek, bergeser ke arah jalur off road disekitar kebun tebu yang sudah mulai ditebang.
Bekas-bekas potongan tebu masih berserak disana-sini, menandakan kesibukan para buruh  tani belum berlangsung lama.
Bahkan dibeberapa titik ditemukan bekas-bekas pembakaran lahan, sehingga jalur yang dilewati seperti diatas neraka.
Keluar dari areal kebun tebu, kemudian dilanjutkan melalui jalur single track yang menuju arah timur sehingga bisa tembus ke Sumberkerang.
Sesuai dengan namanya, daerah ini yang basah dan subur tentu saja hijau dan dinaungi pohonan yang rindang, membuat semua peserta merasa segar meskipun hanya sebentar.
Tujuan utama perjalanan kali adalah bersilaturahmi ke rumah salah seorang penggiat lingkungan sekaligus dedengkot pendaki gunung yaitu Bp. Remon Tambora yang berada di desa Klaseman.
Sehingga, dari desa Sumberkerang, jalur dialihkan ke jalan raya karena jalur di pedalaman semakin menjauhi lokasi yang dituju.
Alhasil, perjalanan kali ini seakan semakin membuka mata, betapa kayanya potensi track yang ada di wilayah Probolinggo, bahkan diantara kita punya angan-angan untuk mengadakan event sepeda Cross Country atau bahkan Downhil sekalipun...
Mungkinkah....?

Senin, Oktober 14, 2013

Angin Mamiri menyerbu Bromo

Walau musim kemarau sudah dipenghujung, tak sedikitpun menyurutkan niat para Goweser dari Komunitas Sepeda Maminasata (KOSEMA) Sulawesi Selatan untuk berkunjung ke surganya para goweser di Bromo.
Awalnya tak sampai 10 orang, namun akhirnya berkembang menjadi 26 orang peserta yang siap di Wisma Anna milik Pak Santriman pada Jumat 11 Oktober 2013.
Jauh-jauh menggunakan pesawat terbang, mereka datang ke Bromo, tentu saja akan diliwatkan dengan penjelajahan yang akan sangat menguras tenaga.
Di hari pertama tgl 12 Oktober 2013, melalui jalur tawaf tentu saja pada musim kemarau seperti sekarang, pasir yang biasanya padat dimusim hujan berubah jadi jebakan yang siap melahap ban sebesar apapun terutama pada saat menerima traksi tekanan saat awal melakukan putaran roda.
Namun, tekad juang yang diusung dari tanah Sulawesi bak semangat pelaut Bugis yang tak pantang menyerah untuk mengarungi lautan pasir hingga akhir.
Jalur Tawaf sepanjang 26 KM, yang biasanya dilalui hanya dalam 5-6 jam, kali itu harus dilibas mulai jam 6 pagi hingga finish jam 5 sore.
Hambatan pasir dan seringnya ber-Narsis ria memang berpengaruh banyak sehingga waktu tempuh menjadi panjang.

Hari pertama yang amat menguras tenaga inipun mereka lalui dengan ceria tanpa ada sedikitpun keluhan dari seluruh peserta.
Dan malam harinya, semua tertidur pulas untuk mempersiapkan diri pada rute hari kedua.



Dinihari minggu tgl 13 Oktober 2013 tepatnya pukul 4 pagi, 4 orang sudah harus mempersiapkan diri untuk mengawal mobil pembawa sepeda untuk menuju start di Argowulan.
Namun baru sampai di titik pandang Dingklik, mobil tak bisa melanjutkan perjalanan karena jalanan dipenuhi oleh kendaraan jip pengantar wisatawan untuk melihat Matahari Terbit.
Terpaksa, harus loading di tempat ini sambil menunggu evakuasi kendaraan berikutnya.
Namun karena hambatan di pintu masuk Lautan Pasir, rombongan yang direncanakan bisa start jam 7 pagi, ternyata baru bisa meluncur hampir pukul 10 siang.
Dari Argowulan perjalanan diawali menuju jalan setapak melewati bangunan milik BAIS yang terdapat tak jauh dari jalan raya.
Meskipun diawali dengan jalan menurun, hampir setengah kilometer, kemudian disapa dengan tanjakan mesra tak sampai 1 kilometer, melalui hutan yang lumayan padat hingga di Cokroniti, yang merupakan tempat persembahyangan tertinggi warga Tengger.

Selanjutnya jalanan single track ini terus berlanjut dengan elevasi menurun yang lumayan tajam.
Bersyukur, cuaca yang cerah membuat perjalanan ini sangat menyenangkan khususnya bagi penggemar fotografi, namun karena keterbatasan waktu akibat jadwal penerbangan, hasrat untuk ber-narsis ria harus diredam.
Perjalanan melalui punggungan bukit ini sedikit berbahaya di beberapa titik karena adanya lubang ditengah jalan serta lereng terjal yang ada dikiri kanan jalur.
Hingga sampai di dusun Sapengeluh, jalur jalan berubah menjadi jalan keras makadam dengan batu sebesar kepalan tangan sepanjang 7 KM, dengan elevasi turunan yang lumayan tajam.
Bagi para penikmat All Mountain, jalur ini seperti menemukan habitat aslinya untuk memaksimalkan kemampuan kinerja sepeda yang dimiliki.
Tak kurang perjalanan sepanjang lebih dari 19 KM akhirnya Finish di Sukapura 5 jam kemudian.






Minggu, Oktober 06, 2013

Orange Force part 2

Rupanya, kerjasama ini terus berlanjut.
Dengan target yang sama namun di lokasi dan tantangan yang berbeda.
Kali ini, target adalah di desa Wringinanom Kecamatan Kuripan.
Titik kumpul di pasar kambing Bantaran telah disepakati.
Dan tepat pukul 7 seluruh peserta sudah lengkap untuk memulai perjalanan.
Diawali melalui jalur mulus menuju pasar Bantaran, kemudian beralih ke arah barat melalui jalan desa Legundi yang elevasinya rolling mesra.
Pemandangan di sekitarnya berupa sungai dengan dinding batu yang mulus-mulus sebagai selingan penghibur.
Kemudian melewati jembatan bambu untuk bisa menyeberang menuju wilayah desa Resongo.
Dari sini, kegersangan mulai terasa. Terlihat sudah mulai banyak sawah yang mengering dan daun-daun pohon pelindung berguguran.
Hanya pohon mangga dengan buah mulai ranum yang masih lebat daunnya.
Panas menyengat berlipat, dari teriknya matahari dan pantulannya di jalan tanah memerah yang kami lalui.
Sempat melewati dan singgah di sebuah kampung yang pertama kami temui, rupanya perjalanan nan "indah" ini,
Karena setelah itu, jalan menanjak berkelok kelok disamping bukit gundul harus dilalui.
Sepertinya ada bekas-bekas pohon jati yang tertanam disini, tapi saat ini tinggal sedikit yang tersisa.
Sedikit siksaan karena jalur yang dilalui tertanam batu-batu pengeras jalan.
Namun tak perlu waktu lama, karena sekitar 3 KM kemudian, jalanan aspal mulus sudah ditemui sekaligus sebagai pertanda sudah memasuki wilayah Desa Wringinanom yang menjadi tujuan.
Desa yang dahulu bernama Bades ini, merupakan wilayah yang cukup parah akibat dampak tak langsung erupsi gunung Bromo.
Sambutan hangat dari aparat desa ini, mampu mendinginkan tubuh kami yang panas akibat tanjakan dan
teriknya memtari yang menemani dalam perjalanan kali ini.

Desa ini pernah tenggelam oleh pasir kiriman gunung bromo yang terbawa banjir sesaat setelah erupsi.
Karena itulah, desa ini termasuk wilayah rawan bencana sehingga menjadi target sosialisasi Mitigasi yang dilaksanakan oleh BPBD Kabupaten Probolinggo.

Setelah selesai acara di tempat ini, perjalanan pulang praktis melalui aspal mulus, menurun melalui Tampok Bumi - Patalan - Tempuran hingga pulang kembali. 

Minggu, September 29, 2013

Purut di musim Kemarau


Tak salah apabila BPBD sebagai salah satu instansi yang terjun langsung apabila terjadi bencana menggandeng para pesepeda untuk mensosialisaikan Mitigasi daerah rawan bencana.
Karena efek rumah kaca yang diakibatkan oleh berkurangnya tanaman dan hutan akan berakibat pada bencana berikutnya yaitu Kekeringan, Banjir, Erosi dan lain sebagainya.
Dan hal ini dilakukan oleh Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo yang sedang melaksanakan program sosialisai Mitigasi di beberapa daerah rawan bencana, menunjukkan secara langsung salah satu langkah yang bisa dilakukan yaitu Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.
Target kali ini berada di Desa Purut Kecamatan Lumbang. Sebuah daerah dengan ketinggian 700 MDPL yang berada disekitar air terjun Madakaripura.
Rute yang diawali dari Markas BPBD ini, terlebih dahulu menyusuri jalan aspal mulus sampai di wilayah Pesisir kemudian masuk jalan desa menuju wilayah Sumber Bendo dimana terdapat salah satu sumber air yang juga dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk mengairi sawah dan juga dimanfaatkan untuk Kolam Renang dan Taman Bermain oleh Universitas Pancamarga di tempat yang disebut oleh penduduk sekitar sebagai Pemandian Kokap.


Setelah puas menikmati wilayah Sumberbendo dilanjutkan ke arah selatan menuju hutan jati Purut. Jalan yang dilalui awalnya hanya tanjakan halus, namun berupa aspal yang sudah rusak di banyak lokasi.
Kemudian setelah sampai di pertigaan hutan jati berlanjut ke utara menuju balai desa.
Dari hutan jati ini tanjakan menyiksa mulai terasa, namun jalan berupa aspal hotmix yang masih mulus hingga sampai di balai desa Purut.
Disini dilaksanakan pembukaan Mitigasi Daerah Rawan Bencana oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Bp. Dwijoko Nurjayadi yang juga merupakan dedengkot sepedaan di Probolinggo.
Setelah acara berakhir, perjalanan dilanjutkan menuju perempatan Lumbang yang merupakan jalan raya yang sering digunakan oleh para wisatawan menuju ke Air Terjun Madakaripura ataupun ke Bromo.
Sampai di perempatan Lumbang, istirahat sebentar sambil loading isi perut, kemudian dilanjutkan ke arah timur menuju ke Wonogoro hingga sampai ke Boto dengan kondisi jalan aspal desa yang naik turun rolling terus menerus.
Setelah dari Boto, baru jalanan menurun tajam hingga Patalan dan dilanjutkan jalan datar sampai ke rumah masing-masing.

Minggu, September 15, 2013

Ke Tiris kan kembali

Tidak bisa dipungkiri, kalau cinta pada pandangan pertama kita adalah TIRIS.
Sebuah wilayah di lereng Timur Gunung Lamongan ini, memiliki potensi keindahan yang tersembunyi.
Tak hanya track-nya yang bervariasi, namun juga terdapat Danau yang jumlahnya tak kurang ada 7 buah
Belum lagi, sungai Pekalen yang sangat indah dan alami di dinding-dindingnya mengundang para investor untuk mendirikan obyek wisata extrim Rafting atau Arung Jeram di sungai Pekalen diantaranya adalah yang dilakukan oleh NOARS Rafting.
Selain itu, masih di sungai pekalen terdapat sumber air panas khas gunung vulkanik aktif.
Dan tentu saja, disekitarnya juga terdapat perkebunan kopi, apukat yang merupakan hasil bumi andalan daerah ini, juga sengon yang merupakan bahan baku kayu lapis.
Menyusuri wilayah ini sangat dimanjakan oleh pemandangan gunung Lamongan serta lereng-lerengnya yang
masih hijau.
Tanjakan dan turunan akan ditemukan silih berganti, dan khusus untuk perjalanan kali ini, 700 MDPL adalah elevasi maksimum yang dicapai ketika memasuki wilayah Dukun Darungan serta ketika pulang di desa Kertosuko.
Tentu saja tak dilupakan untuk mandi air panas serta menikmati pemandangan minimal di Ranu Segaran sudah cukup untuk mengurai asam laktat yang menumpuk akibat rasa capek setelah melakukan pedaling dari dataran rendah sekitar 40 MDPL.