Monday, July 27, 2009

Lama tak update

Sekali lagi, lama tak pernah update bukan tanpa kegiatan.
Kesibukan formal dan non formal menghadang dan jadi kendala untuk sekedar menulis apalagi upload di blog.
Kadang sedih juga sudah berbulan-bulan tak ada update.
Sebetulnya kegiatan rutin tak pernah terlupakan, namun semuanya dengan rute biasa-biasa saja, Dan pagi ini, seperti biasa para pasukan terbagi menjadi 2 group, sepuh dengan rute datar start dari Halte Bus, sedangkan sisanya masih ingin mengasah otot mencoba tanjakan yang sudah lama dikenal, namun kali ini dengan sedikit perubahan rute dari Bantaran, Pancasila, Gunung Tugel, Penawungan, sampai keluar Tegal Bangsri.
Hujan yang semalam mengguyur kawasan yang dilalui, membuat ban jadi tambah tebal, dan kayuhan semakin berat.
Keluar dari bukit Penawungan yang berbatu, ikut terlepas pula beban di sepeda yang terikut sejak memasuki jalur off road.
Dari Jenggrung, tak seperti biasanya yang ke arah selatan, namun langsung ke Timur melalui desa Maninjo dan stasiun Ranuyoso.
Sempat istirahat sambil minum dawet ditraktir pak Haji Djoko Moerdiono yang sedang berbunga-bunga karena baru saja merayakan Perkawinan perak dengan bu Hajah Aini Fitri.
Perjalan 41 KM menanjak mendaki dan turunan tajam berhasil dilalui dalam waktu 4 jam.
Ringkasan di Vello adalah sebagai berikut :
Bantaran - Gunung Tugel - Penawungan - Tegal Bangsri - Ranuyoso.
Dist. 41 KM, Speed max 46 Km/hr, Rate 15Km/hr, eff.time 2.45 hr.
12 Km on road, 29 Km off road.
Alhamdulillah, start 6.15 sampai rumah jam 10.00
Di akhir finish, lagi-lagi ditraktir menikmati Rujak Cingur rasa super buatan bu Tawijan.
Huaaaa... pedas sekali.
Mau coba..????.

Wednesday, May 27, 2009

Rontoknya kedigdayaan sang Raja Tanjakan

Tour ke Kertowono kemaren menyisakan kisah tersendiri khususnya bagi Cak Mad yang selama ini dikenal jago sprint dan tanjakan terutama di jalur on road.
Hampir setiap mengadakan perjalanan jauh, Cak Mad tak pernah lepas dari rombongan leader, karena memang kekuatan fisik bujang berusia 45 tahun ini tak tertandingi.
Terbukti pada saat test sepeda statis, dia mampu melakukan diatas 90 RPM.
Tapi ketika memasuki areal perkebunan teh yang rutenya full offroad dengan turunan dan tikungan tajam serta jalan tanah licin, ternyata membuat cak Mad ngeper dan jauh tertinggal di belakang.
Apalagi ketika memasuki jalanan berbatu, sepedanya terasa tak memadai sampai puncaknya RD terguncang keras dan menyentuk spoke sampai patah.
Sialnya saat itu berada di garis belakang, yang tak terpantau rekan lainnya.
Beruntung mas Firman sang pendaki gunung ini sempat melihat kegundahan Cak Mad, sehingga teman-2 lain diminta untuk membantu.
Kesialan tak berhenti disitu, karena pembawa tool kit yaitu mas Arif, ternyata posisinya melesat jauh di depan, sedangkan saat itu posisi Cak Mad cs, sedang terjepit diantara dua bukit teh yang membuat signal HP semua operator tak mampu menjangkau.
Sehingga mas Adi Scott berinisiatif menyusul rombongan sang pembawa Toll Kit.
Singkat cerita Cak Mad cs ditunggu di sebuah pos Pemetik Teh yang tampaknya baru saja dipergunakan untuk pos konsumsi Event SEJAWAT seri 7.
Keadaan darurat dengan melepas RD dan memotong rantai jadi pilihan jitu, meski dengan hal tersebut membuat gigi tak bisa dipindah.
Sampai tiba di pabrik teh Kertowono, semua berjalan agak pelan sambil menanti Cak Mad yang masih saja tercecer di belakang.
Lepas dari Kertowono jalur menurun beraspal dilahap peserta, lagi-lagi Cak Mad tercecer karena kampas rem-nya tidak memadai.
Namun selepas Wonorejo, ganti Cak Mad balas dendam meninggalkan kami semua, karena jalur Wonorejo - Probolinggo jadi santapan empuknya.

Monday, May 25, 2009

Kertowono... kami datang..!!

Sempat merasa kesiangan karena saat di Pasar Bantaran mencari truk yang akan kembali naik ke Sumber tak nampak.
Nekat pancal terus, ternyata nasib baik menghampiri ketika memasuki Desa Karanganyar, melintas sebuah truk yang akan memuat sayur dari kecamatan Sumber untuk mengambil dikirim ke pasar Keputran.
Apalagi setelah tiba di Pasar Sumber, ternyata sang sopir berbaik hati lagi, karena tak mau menerima ongkos tumpangan dari kami bersepuluh (Semoga amalnya diterima Allah pak, dan rejekinya tambah banyak).
Sempat istirahat sebentar langsung belok kiri menuju desa Cepoko, di desa ini terdapat Antena Relay TVRI dan pabrik Jamur.
Tentu saja di dataran tinggi tak akan dijumpai jalan yang datar, namun tanjakan cukup tajam ketika masuk desa ini membuat beberapa anggota keteteran diataranya peserta tertua Bp. Imam Chudori yang sudah berusia 60 tahun.
Memasuki dukuh Pedarungan, perjalanan agak terhambat karena jalanan dipenuhi biji kopi yang dijemur, sehingga bila terkena ban sepeda jadi oleng dan tidak stabil.
Belum lagi sambutan berupa gonggongan anjing yang memang sudah menjadi binatang piaraan penduduk dukuh ini.
Tantangan berat terus menghadang sampai balai desa Cepoko untuk sejenak beristirahat melepas lelah setelah hampir 3KM melalui tanjakan.
Setelah ini, siap-siap untuk memasuki daerah dengan jalanan berbatu, yang akan menjadi batu sandungan untuk sepeda tanpa suspensi.
Sebelum tiba di Afdeling Kertosuko, sempat bertemu para petani yang baru saja panen Kobis.
Jalanan di persil perkebunan teh ini lumayan licin, sehingga beberapa peserta berjatuhan karena kondisi ban yang tidak sesuai.
Hampir 1 jam memasuki lokasi perkebunan teh ini, sempat dikejutkan informasi bahwa seorang anggota tercecer di belakang, karena RD patah tersenggol spoke.
Padahal perlengkapan dibawa mas Arif yang posisinya jauh di depan.
Lebih dari 45 menit waktu digunakan untuk menunggu, ditambah setengah jam untuk membuat sepeda bisa dikayuh lagi, sehingga waktu tempuh menuju ke Kertowono jadi meleset dari target.
Sehingga akhirnya masuk di lokasi pabrik teh Kertowono jam 12 siang, sehingga acara SEJAWAT sudah bubar.
Berkeliling sebentar sambil celingak-celinguk, barangkali ketemu teman, kemudian dilanjutkan perjalan pulang melalui jalanan meluncur tajam di desa Kertowono hingga sampai di Wonorejo.
Disana beberapa anggota sudah kelaparan berat, sehingga ketika menemukan warung, tanpa ampun langsung memesan menu kesukaannya.
Gara-gara kekenyangan makan, membuat ngantuk dan berat untuk mengayuh lagi, padahal jarak ke rumah masih 30 KM lagi, disertai tanjakan di Kedungjajang, Randuagung, Klakah, Tegalbangsri, Ranuyoso dan Malasan.
Selebihnya rute lebih banyak menurun, dan tepat pukul 15.30 sudah tiba ke rumah lagi.
Foto-foto lengkap bisa dilihat di http://gssleces.multiply.com

Tuesday, May 19, 2009

Tempat transit peserta Sejawat

Sudah diketahui SEJAWAT adalah event regional yang mestinya harus diikuti para penggemar sepeda gunung di Jawa Timur.
Apalagi seri ke-7 kali ini akan dilakukan di Lumajang, yang sangat dekat dengan tempat tinggal kami dan rutenya menjadi salah satu paling favorit.
Namun begitu kecewanya ketika membuka blog SEJAWAT ternyata peserta telah full booked sejak 23 April atau sebulan sebelum pelaksanaan.
7 orang yang akan ikut serta harus memendam kecewa, karena direncanakan akan mendaftar tanggal 1 Mei atau beberapa saat setelah gajian.
Maklum hampir seluruh anggota kita adalah karyawan yang penghasilannya dari gaji bulanan pada tanggal 25.
Namun demikian, sedikit kecewa terobati karena dari Probolinggo khususnya dari "Roda Mas" juga mendaftarkan anggotanya lebih kurang 18 orang, jadi untuk kali ini Probolinggo sudah ada yang mewakili.
Dan sebagai wujud partisipasi kepada seluruh peserta SEJAWAT kami hanya bisa memberikan info beberapa tempat yang bisa dijadikan tempat transit yang ideal sebelum ke lokasi, khususnya bagi peserta yang datang lewat kota Probolinggo.
Salah satu tempat transit adalah Masjid Ar-Rahmah Leces.
Masjid yang terletak tepat di barat pabrik kertas Leces yang tertua di Indonesia ini selain cukup besar, juga cukup luas halamannya untuk menampung kendaraan.
Selain itu ketersediaan sarana kamar mandi sebanyak 15 buah cukup memadai untuk siapa saja yang membersihkan dirinya, disamping air yang cukup melimpah karena berasal dari sumber Ronggojalu yang letaknya hanya 3 KM dari lokasi masjid ini.
Kalaupun perut keroncongan, ada juga penjual makanan, kantin serta wartel.
Tentu saja karena ini adalah masjid, diharapkan yang akan transit juga menggunakan fungsi masjid untuk beribadah, minimal sholat sunnah.
Hanya itu partisipasi kami untuk peserta sejawat, pesan kami hati-hati di jalan dan selamat ber SEJAWAT.
Insya Allah kita ketemu dilokasi, karena kami juga akan memeriahkan acara tersebut dengan mengadakan tour kecil yang rutenya dekat dengan Kertowono.

Friday, May 08, 2009

Sepeda Malam sensasi tersendiri

Bersepeda malam, apa enaknya.
Kecuali sensasi tersendiri, diperolok orang diperjalan, dan bahaya kendaraan bermotor yan melaju cukup kencang.
Tentu saja perlengkapan safety wajib dikenakan selain helm standard, jersey warna mencolok juga ditunjang dengan penggunaan lampu baik untuk penunjuk jalan maupun lampu lead untuk peringatan dibelakang sepeda.
Rutepun tak bisa melalui jalan desa, untuk mengurangi resiko tersesat.
Lokasi perkotaan dimalam hari dengan suasana yang lain jadi daya tarik, diantaranya stasiun, pelabuhan dan diakhiri dengan warung ketan.
Sampai rumah jam 23.00 juga tak membuat istri keberatan.
Karena pintu rumah masih dibukakan ketika kita mengetuk pintu.
Selamat mencoba.

Gucialit Kebun Teh nan Indah Menawan

Pagi itu Minggu 15 Pebruari 2009 sebanyak 9 manusia pengayuh sepeda berangkat dari Perumahan Leces Permai, bergerak menuju Pasar Bantaran yang jaraknya tak lebih dari 15 KM.
Di tengah perjalanan, tepatnya setelah jembatan sungai desa Kedungrejo, kami berpapasan dengan masi Adi "Scott" Brewok, yang kali ini sedang pemanasan dari rumahnya di Sumber Taman, karena memang sudah hampir 3 bulan tak pernah mengayuh sepeda, maklum beberapa waktu yang lalu terlibat kecelakaan sepeda motor yang meretakkan sebagian tulang keringnya.
Sempat menolak, akhirnya mas Adi tak kuasa menahan ajakan yang menurutnya tidak tepat waktu karena kondisi fisik yang sangat tidak memadai.
Melewati Pasar Bantaran, mas Arif "Spesialized" celingak-celinguk sambil mencari kendaraan pengangkut sayur yang sudah menurunkan bebannya untuk diajak mengantarkan rombongan melewati tanjakan curam di kecamatan Kuripan dan Sumber.
Nego tak terlalu alot, karena kesepakatan langsung terjadi kendaraan sudah siap tancap gas, namun agak tertahan karena adal lagi tambahan peserta yaitu Mas Djoko Budi dari Banjarsawah, sehingga tour kecil kali ini melibatkan sebelas orang.
Jalan curam nan menanjak dan berliku dilalui, meski badan harus diombang-ambingkan dan bikin perut mual, setengah jam kemudian tibalah di pertigaan Desa Kalicilik.
Istirahat sebentar untuk mempersiapkan tubuh karena perubahan ketinggian yang cukup mendadak, langsung disuguhi dengan rute yang mengajak peserta turun dari sepedanya masing-masing.
Kemudian begitu memasuk perkampungan, sepeda Spesialized Arif terputus rantainya. Beruntung kali ini peralatan dan spare part sudah siap sedia jadi kendala pertama bisa diatasi tak butuh waktu lama.
Aspal yang mulus sedikit mengurangi beban getaran sampai di pertigaan Masjid Jami desa Kalicilik kami Istirahat sebentar sambil menanti anggota yang tertinggal terutam mas Heny yang sudah lama tak mengayuh sepedanya.
Belok ke kiri dan kualitas jalanpun mulai menunjukkan penurunan, mulai lubang disana-sini sampai akhirnya aspalnya tak tampak sama sekali alias hanya batu pecah yang ditata dengan rapi.
Pemandangan masih disuguhi dengan ladang-ladang bertanamkan kobis, bawang prei, wortel dan lain-lain sayuran khas dataran menengah, sampai akhirnya kita sampai di jalan yang sama sekali tak barbatu apalagi beraspal.
Dihadapan sudah terbentang permadani berhiaskan daun-daun teh yang membentang di sepanjang Kecamatan Gucialit.
Dipertigaan memasuki perkebunan teh, sempat berhenti sebentar, karena jalan ke kiri menuju ke Desa Sawaran, sedangkan apabila belok ke kanan akan menuju ke Kertowono yang akan dijadikan ajang bagi acara Sejawat seri ke 7 23-24 Mei yang akan datang.
Jalanan naik dan turun sedangkan disisi kiri dan kanan tanaman teh menjadi pemandangan yang menakjubkan, membuat udara yang dihirup penuh oksigen yang menyehatkan dan menyegarkan dan bebas polusi.
Hampir 2 jam mengarungi hamparan tanaman teh yang daunnya ternyata terasa pahit dan getir karena memang belum diolah.
Keluar dari "kompleks" perkebunan ini memasuki desa Sawaran.
Sedikit trauma menghiasi beberapa peserta, karena dilokasi ini mas Teguh "Giant" dan Supriyadi pernah celakan di tikungan pertama jalanan yang menurun tajam.
Hati-hati dan waspada terus dilakukan apalagi mendung mulai menggelayut.
Namun demikian masih ada saja yang celakan karena kurang hati-hati dan sembrono, yaitu Alde putra dari Hermanto jatuh terjengkang justru ketika memasuki tikungan tajam terakhir.
Sekalipun sepedanya rusak cukup parah, namun masih bisa ditunggangi.
Keluar dari desa Sawaran hujan sudah tak terbendung, perut keroncongan pun diisi dengan makanan sederhana di sebuah warung makan yang amat bersahaja.
Menunya pun apa adanya, asalkan perut sedikit terisi, apalagi waktu sudah menunjukkan puku 12 siang.
Hujan sedikit reda, perut sudah tak menjerit, perjalan pulang dilanjutkan menuju ke Klakah, Tegalbangsri, Ranuyoso, Gunung Tengu dan tiba di Leces pukul 2 siang.

Posting terlambat Tour via Sepur (2)

Di bibir Ranu Pakis sudah menunggu rombongan dari Probolinggo diantaranya Jas sang mekanik, Teguh "Giant" Wahyudi, Cak Mat, Satuk dan lain-lain sehingga jumlah rombongan semakin banyak kali ini.
Hampir setengah jam beristirahat, sambil menikmati makanan ringan bekal dari Pos 1 yang masih tersisa, karena di pos selanjutnya yaitu di desa Ranuyoso yang dekat dengan telaga Ranu Bedali sudah disiapkan hidangan ala kadarnya.
Puas beristirahat, dan keringat sudah mulai mengering, satu persatu anggota tancap lagi karena memang jalanan langsung menurun menuju ke arah Ranu Klakah, slah satu terbesar yang ada di kaki Gunung Lamongan.
Hati-hati dan waspada terus dilakukan, karena jalanan menurun dan lalu lintas yang lumayan padat oleh kendaraan sepeda motor penduduk sekitar.
Selepas Ranu Klakah, jalan perlahan menanjak nan panjang yang tentu menguras ketahanan kayuh semua peserta, khususnya yang sudah berusia lanjut sampai menjelang masuk desa Ranuyoso.
Di pertigaan SD dekat Ranu Bedali belok kanan untuk menuju sebuah Madrasah yang disana sudah disiapkan makanan penambah gizi yaitu Nasi Jagung dan Ikan Asin serta sambal terasi.
Namun karena kurang koordinasi dan perjalanan terlalu cepat, makanan rencana disiapkan pukul 10, namun sejak pukul 9 semua rombongan telah menunggu makanan yang tak kunjung matang.
Sebagai pelampiasan begitu melihat pohon kelapa yang memang banyak tersedia di tempat ini apalagi banyak diantaranya yang masih muda, maka 1 tandan berisi hampir 20 buah kelapan dilahap habis tak bersisa.
Alhamdulillah pukul 10 makanan sudah siap, meski ada beberapa anggota yang tak sabar sehingga meninggalkan rombongan terlebih dahulu, karena memang punya acara lain.
Tentu saja perut yang sudah sejak pagi keroncongan langsung menyerbu gundungan nasi jagung yang diiringi dengan sayur bening serta tentu saja ikan asin, tempe goreng, dadar jagung dan tak lupa sambal terasi yang cukup pedas.
Peluh bercucuran seperti saat mengayuh sepeda cukup memuaskan seluruh peserta kali ini.
Selepas acara makan-makan rombongan satu-persatu mengayuh sepedanya langsung meluncur desar ke arah pasar Ranuyoso, Gunung Tengu, Malasan, Leces dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke kota Probolinggo.

Sunday, March 01, 2009

Pandangan Pertama

Gak biasanya naik sepeda di hari minggu sepi peminat. Sepedaan keliling Banjarsawah-Syintho-Aloen2-Ketapang-Patalan-Bantaran-Leces berjarak 48.73 km, hanya berdua dengan mantan sendiri...hihihi... Gak ada yang seru untuk diceritakan sepanjang perjalanan. Hanya saja ada yang lain ketika perjalanan sudah melewati Terminal Bayuangga. Sepeda terasa sangat berat untuk dikayuh. Yang pertama karena baru selesai sarapan di pos I Aloen-aloen Probolinggo, dan yang kedua selalu kepikiran sama tas kresek putih berisi sebatang coklat Silver Queen yang dibeli di Indomart Aloen-aloen. Sebentar2 sambat capek agar bisa berhenti istirahat. Padahal tujuan utamanya hanya sekedar mencicipi sepotong coklat. (Maksudnya sepotong-sepotong sampai habis...hehehe). Batal deh tujuan untuk membakar lemak di tubuh. Nih malah nimbun nyonya... Sampai ketika tiba di penjual es buah depan masjid Ar Rohmah, tiba-tiba ingin menambah timbunan kalori dengan semangkok es buah yang segar... Tapi ternyata di dekat situ sudah ada beberapa pesepeda yang juga sedang istirahat. Iseng-iseng kami sempat bersalaman dan berfoto dengan mereka. Kalau melihat wajahnya sepertinya umurnya merata. Maksudnya dari yang muda, setengah muda dan yang setengah tua juga ada. Kami lihat seragam keren bertulis Phanter Jember. Haaah...jauh banget. Tak kira lokalan Probolinggo...hehehe Akhirnya kami beranikan diri SKSD (sok kenal sok dekat) untuk ngobrol yang akhirnya minta foto bersama mereka. Biar terlihat keren foto bareng orang jauuuuuh...

Monday, January 19, 2009

Tour via Sepur - Bagian 1

Sesuai yang direncanakan, Tour kali ini harus dilalui dengan terlebih dahulu menaiki Kereta Api menuju kota Randu Agung atau sebelah timur Klakah.
Kendati sempat was-was karena minimnya peserta.
Ternyata pada detik pemberangkatan 36 peserta telah terdaftar.
Hal ini sudah mencapai rekor tour dalam 2 tahun terakhir.
Maklum, disamping karena sarana transportasi yang tak biasa, juga pelaksanaan tour pada hari Minggu membuat banyak peserta yang biasanya berhalangan jadi ikut serta.
Jam setengah lima stasiun kereta api Leces sudah mulai didatangi para anggota sepeda gungung dari segenap penjuru kota Leces - Probolinggo.
Dan tepat pukul 5.15, kereta Probowangi jurusan Probolinggo - Banyuwangi memasuki stasiun.
Dan langsung dengan sigap seluruh sepeda dinaikkan satu persatu melalui beberapa pintu bahkan juga melalui bordes belakang.
Hal ini dilakukan dengan sangat tergesa-gesa mengingat biasanya waktu berhenti di stasiun ini hanya 1 menit, dan terbukti ketika masih ada 5 sepeda terangkut peluit petugas sudah meraung-raung agar secepatnya penumpang naik kereta.
Alhamdulillah meski dengan susah payah sepeda seluruh anggota memadati 1 gerbong lebih.
Bahkan karena adanya sepeda membuat tak leluasa para penumpang bahkan kondektur kereta.
Hampir 1 jam kemudian, kereta telah tiba di tujuan yang direncanakan yaitu Stasiun Randu Agung.
Sebuah stasiun kecil yang jarang dihampiri Kereta Api.
Turun di stasiun ini, segera membentuk formasi untuk briefing rute dan aturan tour yang dilakukan oleh ketua.
Kemudian sebelum dimulai terlebih dahulu diawali dengan berdoa agar selama perjalan nanti tidak menemui halangan yang berarti.
keluar dari halaman stasiun, belok kiri menuju pos 1 yang jaraknya sebetulnya jaraknya lebih kurang 3 KM di desa Ranulogo.
Namun jalanan terus menanjak sehingga memperlambat laju sepeda dan memperberat kayuhan kaki yang belum sempat merasakan warming up.
Tiba di Pos 1, disana disuguhi makanan pengganjal perut berupa makanan ringan klepon dan pisang Agung yang direbus.
Hampir 15 menit istirahat, kemudian dilanjutkan dengan mengikuti jalan desa yang beraspal naik turun dan berkelok-kelok melalui desa Salak dan desa Duren.
Satu persatu anggota yang memiliki kondisi fisik kurang prima mulai turun dan sepedanya.
Semua tak apa-apa karena memang niatnya adalah bersepeda santai sambil menikmati pemandangan.
Dan beberapa anggota mulai merasakan keluhan pada nafasnya, karena saat itu terjadi hujan abu akibat letusan reguler gunung Semeru yang tak jauh dari lokasi.
Kayuhan dan genjotan tak mau berhenti sampai di pos 2 yang terletak di bibir Ranu Pakis.

Monday, January 05, 2009

Tour via Sepur

Kami informasikan bahwa seluruh anggota dan simpatisan Group Sepeda Santai LECES akan mengadakan tour ke Randuagung.
Hanya saja yang agak spesial menuju randuagung menggunakan kereta api. kemudian ke Leces semua sepeda digenjot beramai-ramai melalui jalur Gedang Mas, Ranu Pakis, Ranu Klakah, Desa Alun-alun, Gunung Geni, Banyuanyar dan Finis di Leces.
Namun jalur yang dilalui nantinya 50% beraspal dan sisanya off road..
Dalam perjalanan tersebut kita akan melalui lokasi wisata alam yaitu Perkebunan Kalipenggung, Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali.
Kondisi jalan sedikit naik turun, dan ada 3 tanjakan yang cukup menantang di sekitar 3 ranu yang akan kita lewati.
Acara tersebut INSYA ALLAH akan dilaksanakan pada.
Hari MINGGU tanggal 18 Januari 2008.
Start di Stasiun Kereta Api Leces pukup 04.45 WIB.
Bagi yang ingin ikut serta bersepeda beramai-ramai bersama bisa menghubungi :.
Korlap Tour :
Bp. M. ANSHARI (08123461308 / 0335-681881).
Atau bendahara GSS Leces :
Bp. NANANG SISWANTORO (081336391886 / 0335-681236).
Biaya tiket kereta ± Rp 20.ribu rupiah.